JAKARTA-Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar Rapat Kerja (Raker) guna merumuskan dan menetapkan program-program prioritas untuk 2026.
Raker ini menjadi momentum konsolidasi pengurus sekaligus penguatan arah dakwah seni dan budaya Islam ke depan.
Ketua LSBPI MUI, Dr Phil Habiburrahman, menyampaikan bahwa dalam raker tersebut disepakati dua program utama yang akan menjadi fokus LSBPI pada 2026.
“Pada hari ini kami Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam mengadakan rapat kerja untuk menentukan kegiatan program prioritas LSBPI. Ada dua program prioritas,” ujar Habiburrahman saat diwawancarai di sela acara Raker, di Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Program prioritas pertama adalah Multaqa Seniman dan Budayawan Muslim se-Indonesia, yang akan menjadi ajang pertemuan nasional para seniman Muslim sekaligus forum konsolidasi LSBPI di seluruh Indonesia.
“Kita akan mengadakan pertemuan seniman Muslim yang sekaligus menjadi pertemuan untuk mengkonsolidasikan LSBPI se-Indonesia. Ini semacam Rapat Kerja Nasional bagi LSBPI,” jelasnya.
Adapun program prioritas kedua adalah Sayembara Penulisan Cerpen Islami tingkat Asia Tenggara, yang akan melibatkan penulis dari sejumlah negara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand.
“Sayembara ini diharapkan menjadi ruang dakwah dan literasi Islam melalui karya sastra yang bernuansa seni dan budaya,” tambahnya.
Habiburrahman juga menyampaikan harapannya terhadap kepengurusan LSBPI masa khidmat saat ini agar semakin solid dan berdampak luas bagi umat.
“Harapan saya pada kepengurusan tahun ini, LSBPI semakin kuat dengan hadirnya pengurus baru, semakin semangat, kompak, dan seluruh program yang memberi pengaruh positif bagi umat dapat dilaksanakan dengan maksimal serta penuh keberkahan,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Seni Budaya dan Peradaban Islam MUI, Ustadz Erick Yusuf, menegaskan bahwa arah program LSBPI masa khidmat 2025–2030 disusun berdasarkan poin-poin strategis hasil Musyawarah Nasional (Munas) MUI.
“Dalam kepengurusan LSBPI kali ini, kita menekankan poin-poin hasil Munas, salah satunya adalah bagaimana kerja-kerja LSBPI yang sudah baik ini masuk ke dalam ranah literasi digital. Kita harus go digital agar dakwah seni budaya dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” jelas Erick.
Ia menambahkan, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), LSBPI dituntut untuk ikut berkontribusi dalam dakwah seni dan budaya melalui platform digital.
Selain penguatan digitalisasi, Erick Yusuf juga menekankan pentingnya diplomasi media dan budaya, dengan menjadikan Indonesia sebagai barometer dakwah seni dan budaya Islam dunia.
“Indonesia diharapkan menjadi pusat rujukan dakwah seni budaya dari seluruh dunia. Karena itu, program-program LSBPI masa khidmat 2025–2030 disusun untuk memperkuat diplomasi budaya sesuai arahan Munas,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya dokumentasi dan pencatatan sejarah peradaban Islam di Indonesia, termasuk menggali kembali kearifan lokal bernuansa Islami yang mulai terlupakan.
“Peradaban Islam di Indonesia sangat luar biasa. Ini perlu terus didokumentasikan, termasuk mengangkat kembali nilai-nilai kearifan lokal Islami yang sempat hilang atau terlupakan,” katanya.
Menurut Erick, LSBPI juga akan terus membersamai umat melalui karya seni dan budaya, serta melibatkan lebih banyak maestro, pelaku usaha, dan entrepreneur yang memiliki kepedulian terhadap seni budaya dan peradaban Islam.
“Alhamdulillah, dalam masa khidmat 2025–2030 ini kita semakin diperkuat dengan hadirnya para maestro dari berbagai stakeholder, termasuk para pengusaha yang konsen pada seni budaya Islam,” ungkapnya.
Rapat kerja tersebut akhirnya menghasilkan sejumlah program unggulan yang diharapkan mampu memperkuat peran LSBPI dalam dakwah, budaya, dan peradaban Islam.
“Karena itu, kami mengajak seluruh pihak untuk mendukung dan mendoakan agar LSBPI dapat terus berkhidmat bagi umat,” ujar Ustadz Erick. []



