Aku Bukan Monster Abu-Abu

Frustrasi, jengkel, kesel atau apapun sebutan lainnya. Itulah perasaan yang lagi dialami orang tuaku akhir-akhir ini. Jika boleh memilih mungkin keluargaku akan menyuruh aku pergi meninggalkan rumah. Ini terjadi lantaran aku dalam waktu satu tahun ini terus-terusan berbuat nakal dan mempermalukan keluarga.

“Hari ini ada surat dari sekolahan yang bilang kamu habis berkelahi dengan kakak kelasmu, minggu lalu Pak RT melabrak ke rumah karena anaknya bocor kepalanya karena habis berantem dengan kamu. Satu bulan yang lalu sepeda motormu disita sama polisi karena kamu kebut-kebutan di jalan. Apa sebenarnya mau kamu \? ujar ayah dengan nada sangat tinggi.

Aku hanya diam tak bisa menjawab sedikitpun. Bibir ini berat seperti terkena lem alteco yang kuat merekat. Sebenarnya aku ingin menjawabnya karena semua yang diceritakan ayah tersebut bukan murni salahku namun sekali lagi mulut ini sepertinya kelu membeku.

“Sudahlah Al nurut apa kata ayahmu” kata Kirana di kantin sekolah. Dia satu-satunya temen perempuan yang masih peduli sama aku. Karena kebanyakan temen sekolah selalu menghindar jika melihat aku. Mungkin aku ini monster yang berseragam abu-abu.

“Kok hanya tersenyum, jawab dong..?!”

Mataku memandang wajahnya yang tulus. Namun aku juga tak mempu berkata-kata. Bedanya kali ini aku bisa tersenyum dengannya berbeda saat keluargaku yang selalu memarahi aku.

“Aku percaya kok suatu saat kamu akan berhenti dari semua ini. Dan someday kamu akan menjadi seseorang yang mampu berbuat manfaat pada banyak orang”

Siang itu matahari tampak tajam menyinari hingga kulit ini serasa menganga. Aku berharap sesampai dirumah langsung merebahkan tubuh ini ke kasur. Jika diamati tubuh ini semua lunglai

“Sudah pulang kamu ? langsung makan trus mandi ya. Ayah akan ajak kamu ke Bogor sore nanti” bak disamber gledek disiang hari. Tidak ada hujan tak ada angin ayah langsung memintaku seperti itu.

“Memang ada keperluan apa kita ke Bogor” tanyaku penasaran.

“Nanti dijalan ayah jelaskan”

Jika jujur geregetan melihat keadaan ini. Tubuh begitu capek pengen istirahat malah diajak ke Bogor. Namun, permintaan ayah tetap aku turuti saja. Pukul 16.00 pesawat Lion Air terbang dari bandara Adi Sucipto munuju bandara Soeta. Meski berita lalu Lion sempat heboh lantaran penumpangnya dikecewakan karena delay sangat lama namun ayah percaya Lion tidak seperti itu setiap hari seperti itu.

Sampai di Soeta perjalanan kami lanjutkan menuju Bogor dengan menggunakan KRL. Dari Jogja saya menunggu penjelasan ayah terkait perjalanan ini namun sampai di stasiun Bogor pun tak ada sedikit pun alasan kenapa saya diajak pergi.

Hingga berhetilah taxi yang mengantarkan kami di sebuah Desa yang bernama Pondok Rajeg kecamatan Cibinong. Di ujung gang terdapat gapura bertuliskan kantor Sekretariat PITI (Persatuan Tionghoa Islam Indonesia). Dalam hati saya masih bergumal apa maksud ayah membawa saya ketempat ini.

“Bapak ada?” tanya ayah pada seseorang yang membukakan pintu. Sampai didalam terdapat bangunan yang berbentuk seperti kuil didepannya terlihat berbagai tanaman yang ditata rapi disebelahnya ada beberapa hewan yang sepertinya diternak.

“Ini namanya Bang Anton Medan pemilik dari pondok pesantren ini” ujar ayah seraya menatapku.

“Anton Medan? Aku pernah mendengar bahwa ia adalah seorang preman kelas kakap yang sering keluar masuk penjara dan sudah lama bertobat” gumamku dalam hati.

Lelaki keturunan tionghoa itupun dengan ramah menyalamiku dan mempersilahkan aku duduk. Dilahan seluas 1 hektar itulah ia mengelola sebuah pondok yang diberi nama Ponpes At Taibin. Selain mengurus pondok tersebut ia juga mengurusi mantan terpidana dan preman yang sudah tobat dan dibimbing untuk membuka usaha.

“Saat ini ada 340 warung pecel lele yang kami kelola” ujarnya.

Usai bercerita panjang lebar tentang sejarah masa lalunya yang kelam. Bang Anton juga memberi motivasi kepada aku. Mendengar keterangan itulah aku merasa nyaman karena ada orang yang mau mengerti persoalanku. Usai berbincang lantas ayah berbisik dengna Bang Anton.

“Sekarang kita menginap di sini dan besok pagi ayah balik kerumah. Kamu tinggal disini dulu selama satu bulan” ujar ayah.

“Tapi yah….?”

“Sudahlah nurut apa kata ayah”

Inilah perjalanan hidupku yang baru. Tinggal di sebuah tempat yang jauh berbeda dengan kondisiku. Di awal hari aku tak tahan tinggal di pondok ini. Sempat aku ingin minggat dari tempat tersebut dengan cara melompat pagar. Namun naas saat terjun dari pintu ternyata Bang Anton sudah ada didepanku. Sayapun takut luar biasa sampai-sampai mata ini aku pejamkan erat-erat. Dan menunggu pukulan datang. Tetapi ketakutan itu tak terjadi saya Bang Anton dengan sabar dan lembut memelukku.

Minggu berikutnya saya sudah bisa menerima keadaan ini. Binaan bang Anton dengan sabar membimbing ku untuk belajar agama dengan baik serta bagaimana melewati kehidupan ini. Sesekali aku diajari tentang dagang, merawat hewan serta  tanaman-tanaman hias. Bang Saiful namanya ia sudah dua kali keluar masuk penjara karena kasus perampokan namun kini ia sudah bertobat dan suka memberi tausiah pada santri binaan.

Santri lain juga sangat baik menerima aku. Setiap malam usai sholat Isya mereka selalu bercerita masa lalunya yang jahat namun sekarang sudah berubah dan aktif mengaji.

Hm, hampir sebulan lamanya aku tinggal di tempat tersebut. Banyak inspirasi yang telah aku peroleh. Kini aku semakin sadar bahwa sudah saatnya aku berhenti dari kenakalanku. Jika dibandingkan dengan mereka mungkin kenakalanku jauh tidak ada apa-apanya. Namun kini mereka menjadi orang yang baik dan bermanfaat bagi sesamanya.

“Bismillah…., mulai hari ini aku berjanji akan menjadi anak yang nurut dengan orang tua dan guru. Bimbing aku ya Allah” ucapku lirih sambil menengadahkan kedua tanganku.[]

 

 

 

 

 

%d bloggers like this: