Sesederhana Bahagia

“Baiklah, kita tunda rapat ini sementara. Kita lanjutkan besok pagi.” Ujar Soni seraya mengetuk-ngetuk meja dengan bolpointnya, menandakan selesainya rapat bersama para anak buahnya, petang itu.

Helaan napas terdengar di sana-sini. Rapat panjang sejak pagi itu memang sungguh melelahkan sekali. Terlebih di akhir pekan seperti ini, yang mana biasanya kantor tutup karena hanya lima hari kerja.

Soni menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi seraya melepas dasi dalam satu gerakan mulus. Diliriknya sekilas jam dinding bentuk persegi di ruang meeting tersebut. Pukul 6 petang. Sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang. Tanpa sadar, Soni ikut menghela panjang napasnya.

Masih ada sepuluh materi lagi yang belum dibahas dalam rapat tim kerjanya kali ini. Ia tidak bisa memaksakan para anak buahnya lagi. Sudah tiga hari ini ia menuntut semua karyawannya lembur demi kepentingan perusahaan pimpinannya ini.

Soni mendesah. Pukul delapan nanti ia harus mengikuti jamuan makan malam khusus para presdir di sebuah hotel. Semenjak ia berhasil mengangkat perusahaan garmennya ke jajaran top ten perusahaan terkemuka di kotanya, Soni memang sering mendapat undangan jamuan semacam ini.

Lelah? Yah, itu resiko sebuah kesuksesan. Semua itu dia lakukan demi kemajuan perusahaan yang didirikan oleh almarhum ayahnya, yang sekarang ia teruskan ini. Lika-likunya demikian rumit dan pelik. Tapi kejayaan menanti di akhir perjuangan.

Puas? Tentu saja. Siapa yang tidak puas dengan profit perusahaan yang terus melesat setiap saat. Seluruh karyawannya mendapatkan gaji dan fasilitas yang memuaskan. Anak dan istrinya sama sekali tidak kekurangan. Tapi itu masih kurang. Ya, Soni merasa ia harus terus dan terus meningkatkan kinerjanya, menjadikan perusahaannya yang terbaik dari yang pernah ada.

Soni tersenyum senang dengan pikiran semacam ini. Sambil masih tersenyum, diambilnya smartphone yang disimpannya di laci meja saat rapat tadi—dan seketika tercengang saat menyalakannya. Ada puluhan panggilan tak terjawab dari Dian, istrinya. Pun demikian dengan WA dan BBM. Semua isinya sama, pemberitahuan bahwa anak sulungnya, Raka, yang baru berumur lima tahun, tertabrak motor dan saat ini tengah dirawat di rumah sakit!

Gegas Soni menyambar semua berkas-berkasnya, dan memasukkannya asal saja ke dalam tas foldernya. Ia ingat, sore ini harusnya ia mengajari Raka belajar naik sepeda. Ia sudah janji. Pekan depan nanti Raka mau ikut lomba sepeda hias. Jadi Raka bersikeras agar ia segera bisa menaiki sepeda yang sudah dimilikinya sejak setahun yang lalu, hadiah dari kakeknya saat masih hidup.

Selama di jalan, pikiran Soni berkecamuk. Rasanya sudah lama sekali ia tidak memikirkan Raka dan Rani, kedua buah hatinya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak bercengkrama bersama keduanya, apalagi sekadar mengajari naik sepeda. Semua hal tentang anak-anak ia pasrahkan pada istrinya. Dan toh, selama ini Dian tidak pernah melaporkan hal yang aneh-aneh tentang keduanya. Tapi, yah … memang ia merasa ada sesuatu yang hilang. Ia merasa ada bagian dari hidupnya yang seolah berlubang. Ia tak tahu itu apa. Hanya saja, saat mendapat kabar Raka kecelakaan, ia merasa bagian yang berlubang itu menjadi demikian sakit dan menghimpit.

“Gimana, Raka? Apa yang terjadi? Mana yang terluka?” Soni memberondong Dian dengan pertanyaan begitu tiba di Rumah Sakit.

Dian yang sudah menunggu sejak tadi hanya mengisyaratkan suaminya agar diam, seraya mengangguk ke arah sebuah kamar. Tampak di dalamnya, Raka tengah tertidur. Balutan gips menghiasi kaki kirinya.

Dada Soni seketika terasa nyeri. Perlahan-lahan ia masuki kamar di bangsal anak tersebut dan mengamati putera sulungnya. Kelebatan kenangan saat dirinya masih banyak meluangkan waktu bersama anak-anaknya membuatnya semakin sesak. Sudut matanya mulai basah.

“Sejak siang tadi Raka tidak bisa tidur, menangis. Dokter akhirnya menaikan dosis anti nyeri, hingga akhirnya dia bisa tertidur.” Bisik Dian di sampingnya.

“Maaf,” balas Soni seraya berbisik pula. “Aku sedang rapat. Jadi handphone kusimpan di dalam laci.”

Dian tidak membalas, malah kembali keluar kamar. Di depan koridor bangsal ada sebuah halaman mungil. Ia menjaring udara banyak-banyak di sana.

“Gimana kondisinya?” Tanya Soni yang mengikuti istrinya keluar kamar. “Patahkah kakinya?”

Belum lagi Dian menatap suaminya dan menjawab pertanyaannya, handphone Soni sudah berdering nyaring. Telepon dari asistennya.

Soni mengangkatnya, dan berbicara pelan sambil menjauh. Usai telepon singkat itu, masuk lagi telepon berikutnya.

Dian lagi-lagi menghela napas. Kali ini, lebih karena kesal pada sang suami.

“Waktu rapat aja, kamu bisa ya, nggak ngangkat telepon kalau anak kamu kecelakaan!” sembur Dian emosi, begitu Soni menyelesaikan percakapan terakhirnya via telepon. “Sekarang, kamu udah di sini, di dekat anak kamu yang lagi kesakitan. Tapi kamu masih saja ngurusin kerjaan?” suara Dian mulai bergetar. “Lagipula, kamu inget nggak sih, kalau hari ini kamu sudah janji mau mengajari Raka naik sepeda? Kamu tahu apa akibatnya saat kamu ingkar janji? Raka nekat naik sepeda sendiri, dan sebuah mobil melindasnya, dan patah itu kakinya!” Dian mengusap air mata yang mengaliri kedua pipinya dengan kasar. Tubuhnya berguncang menahan isak yang bercampur amarah.

“Iya, iya … aku yang salah. Aku minta maaf ….” Ujar Soni tulus. Handphone ia masukkan ke dalam saku, lalu ia raih tangan istrinya dan menggenggamnya. “Maaf, akhir-akhir ini aku memang jarang meluangkan waktu buat kalian. Maafkan aku. Kamu tahu sendiri kan, jadi pimpinan perusahaan itu tidak gampang. Apalagi persaingan dunia usaha demikian sulit di luar sana ….”

“Lalu, apa sulit juga meluangkan waktu barang sebentar saja buat keluargamu, Mas?” Dian menatap suaminya.

Soni membalas tatapan sang istri, dan seketika semakin merasa bersalah. Sesungguhnya, memang tidak sulit. Bahkan sebenarnya mudah, kalau saja ia punya niat yang sungguh-sungguh.

“Papa?” tiba-tiba, suara Raka yang memanggil dari dalam kamar mengagetkan keduanya. Dian dan Soni bergegas masuk ke dalam kamar inap, menemui putra sulung mereka.

“Papaaa! Kakiku sakiiitt! Aku nggak bisa naik sepeda lagiii!” ujar Raka dengan mata berkaca-kaca.

Soni mendekati putranya itu dan mengelus kepalanya. “Sabar ya, nanti setelah kaki Raka sembuh, kita akan mulai lagi belajar sepedanya. Lalu nanti kita naik sepeda sama-sama ke taman kota, ya?”

“Kapan itu, Pa?”

“Ya nanti, tunggu kaki Raka sembuh dulu.” Ujar Soni dengan nada riang.

“Papa janji mau ngajarin Raka? Tadi sore papa lupa!” anak laki-laki itu lebih terlihat sedih daripada marah. Ruang hampa di dalam diri Soni kembali menohok-nohok nyeri.

Ah, andai saja ia tidak dikuasai nafsu mengejar materi, tentu ia bisa menggenapi ruang hampa itu dan mengisinya dengan kebahagiaan bersama anak dan istrinya. Ya, begitu mudah dan sederhana saja sebenarnya. Sesederhana bahagia.[]

Penulis, Deasylawati P

 

 

%d bloggers like this: