Arkeolog Teliti Candi Sirih di Desa Watu Kelir

SUKOHARJO – Keberadaan Candi Sirih di Desa Watu Kelir, Kecamatan Weru, Sukoharjo, menarik perhatian dari para ahli kepurbakalaan. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai sejarah dan tata letak candi tersebut, para peneliti dari Balai Arkeolog Jogjakarta pun mulai melakukan penggalian.

Salah satu peneliti dari Balai Arkeolog Jogjakarta Baskoro Daru Tjahjono mengatakan, pihaknya kemarin melakukan observasi dan segera mengali candi tersebut. Rencana penggalian ini akan dilakukan sampai 11 Mei mendatang. ”Ini akan dimulai dan melibatkan warga sekitar sini juga untuk prosesnya,” ujar Baskoro ditemui di lokasi kemarin Selasa, (23/4).

Dalam melakukan penggalian ini ada 13 personel dari Balai Arkeolog Jogjakarta ditambah dua dari dinas terkait setempat. Selain itu, ada 10 tenaga lokal yang ikut membantu proses penggalian.

Dari penelitian yang dilakukan, Candi Sirih memiliki satu candi inti dan tiga perwara di sekelilingnya. Saat ini sudah ditemukan dua perwara dan satu perwara lagi hilang. Candi ini kemungkinan ada di masa Mataram Kuno sekitar abad 8 – 10 Masehi. Namun, terkait kapan pastinya pihaknya masih mencari tahu detail berdirinya candi tersebut.

”Kami juga masih mencoba mencari kelengkapannya, Kaki candi ini belum kelihatan karena sebagian masih terpendam tanah,” papar dia.

Atap Candi Sirih ini dipastikan sudah runtuh. Dari data yang ada bahan pembangunan candi ini digunakan dari batu tufa. Sementara fungsi dari candi ini untuk ibadah saat zaman Hindu. Pihaknya terus mencatat perkembangan dari candi ini.

Pemerhati Budaya Sukoharjo Bimo Kokor Wijanarko mengatakan, candi tersebut masih memiliki sejarah yang berkaitan dengan ibu kota Mataram Hindu. Maka, para arkeolog tersebut datang melihat untuk meneliti lebih dalam keberadaan candi tersebut. “Biar diteliti lebih jauh,” ujarnya.

Menurut Kokor, sejarah ditemukan candi sirih awalnya banyak warga sekitar yang beragama Hindu. Mereka harus pergi bersembahyang sampai ke wilayah Jogjakarta. Agar lebih dekat, para tetua adat kemudian menyarankan untuk membuat candi. Namun, dalam waktu yang lama banyak warga sekitar yang tidak mengetahui kalau tumpukan batu tersebut adalah candi. Sampai akhirnya pada 2001, dia melaporkan adanya candi tersebut ke Balai Arkeologi Jogjakarta.

“Dengan adanya penelitian ini kami berharap ada hasil positif untuk Sukoharjo. Selain itu, dengan adanya temuan ini diharapkan dapat mengembangkan pariwisata di Sukoharjo. []

 

sumber: radar solo

%d bloggers like this: