Pemkot Targetkan 5000 Pengunjung pada Gelaran Shinta Obong

SOLO – Pemkot menargetkan kenaikan jumlah penonton, yakni mencapai 5.000 orang pada gelaran Opera Bakdan Neng Sala dengan Lakon Shinta Obong 7-9 Juni. Lakon yang dimainkan di Benteng Vastenburg itu juga bakal dilengkapi sajian kuliner khas Solo.

Kepala Dinas Pariwisata Surakarta Hasta Gunawan mengatakan, target tersebut naik dibandingkan tahun lalu yang hanya 3.500 penonton.

“Karena banyak kejutan-kejutan pada tahun ini. Salah satunya banyak bakaran-bakaran. Baik bakaran makanan, juga bakaran Shinta. Lakon Shinta diobong,” ujarnya, Jumat (31/5).

Opera Shinta Obong melibatkan 150 seniman anak-anak hingga dewasa. Mereka akan tampil selama tiga hari di Benteng Vastenburg.

Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo mengatakan, Bakdan Neng Sala Nonton Opera Ramayana telah diselenggarakan empat tahun terakhir. Gelaran tersebut menjadi salah satu cara melestarikan seni dan budaya Bangsa Indonesia.

“Pertunjukkan digelar gratis untuk memberikan hiburan kepada pemudik yang selama ini sudah tidak pernah nonton wayang orang. Harapannya, generasi muda lebih mencintai kesenian budaya bangsanya sendiri,” katanya.

Pemkot terus memberikan dukungan karena seniman yang tampil sebagian besar merupakan generasi muda. Meski di bulan puasa, mereka tetap bersemangat latihan dan tampil saat Lebaran.

Penulis naskah, S.T. Wiyono mengatakan, Opera Bakdan Neng Sala dengan Lakon Shinta Obong merupakan adopsi dari cerita Ramayana. Berbeda dengan pertunjukkan tari dan pementasan wayang lainnya, karya ini menyuguhkan garap tari dialog dan tembang.

“Gagasan konsep opera ini menitikberatkan pada gerak tari kekinian tanpa meninggalkan tradisi yang ada. Demikian pula garap musik yang diracik, sehingga nuansa opera yang megah dan agung dapat dirasakan,” paparnya.

Tahun ini, lanjut S.T. Wiyono, yang dieksplorasi adalah bentuk panggung dengan mengolah dimensi agar terlihat menarik dengan menyesuiakan alur cerita. Kostum juga digarap serealistis mungkin sesuai peran masing masing tanpa meninggalkan rasa tradisinya.

“Semua kami kolaborasikan menjadi satu kesatuan pertunjukkan agar penonton dapat ikut masuk dalam garap dunia opera,” pungkas dia. []

 

sumber: radar solo

%d bloggers like this: