Gadis Cilik Penulis Diary

Buku dan alat tulis yang sudah tertata rapi kumasukkan ke dalam tas sekolah. Kamarku berantakan banyak buku-buku yang berserakan di lantai. Semalam aku belajar mengerjakan tugas bahasa Inggris dari guruku. Pagi ini aku belum sempat membereskan buku-buku itu. Melihat kondisi ruang kamar seperti kapal pecah membuat ibuku ngomel-ngomel. Omelan ibu aku abaikan. Mengingat hari ini terakhir ke sekolah. Aku bergegas bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Di saat hendak mengenakan seragam teringat pesan dari kepala sekolah bahwa kami diminta untuk memakai pakaian biasa bukan seragam khas sekolah.  Kuputuskan untuk memakai baju berwarna pink kesukaanku. Aku tidak tahu alasan apa yang mendasari bahwa kami tidak diperbolehkan untuk berseragam ketika ke sekolah.

Pukul 08.00 pagi aku sudah berada di sekolah.  Suasana sekolah saat ini terlihat seperti rumah.  Anak-anak lainya juga mengenakan pakaian yang berwarna-warni. Suara canda tawa memenuhi ruang kelasku. Aku saat ini duduk di kelas V. Sekolahku berbeda dengan sekolah di negara pada umumnya. Semua teman di sekolahku adalah perempuan. Sedangkan laki-laki juga memiliki sekolah sendiri. Di negaraku memang sekolah dipisah sesuai jenis kelaminnya. Sekolah khusus perempuan pun sebenarnya juga baru kali ini ada. Sebelumnya kami anak perempuan tidak diperbolehkan untuk bersekolah karena sebuah kebijakan dari salah satu kelompok separatis.

Kanju seorang teman dekat mendatangiku, ia bertanya “Apa benar tentara Taliban akan menghancurkan sekolah kita?”

“Iya, benar sekali. Mereka telah mengeluarkan taklimat agar anak-anak perempuan tidak bisa sekolah lagi.” Jawabku. Mendengar jawabanku itu raut wajah Kanju berubah seketika. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Aku peluk dirinya erat. Betapa berharganya sekolah buat kami khususnya anak-anak perempuan

Aku sedih bahwa hari ini merupakan hari terakhir kami di sekolah. Kepala sekolah mengumumkan besuk sudah mulai libur musim semi, tetapi ia tidak menyebutkan kapan kembali masuk sekolah lagi. Kepala sekolah tidak memberi tahu alasan dibalik hal tersebut. Karena hari ini merupakan hari terakhir di sekolah. Aku dan Kanju bermain lebih lama. Aku sangat yakin bahwa sekolah akan buka kembali suatu saat nanti. Namun, ketika mata ini menatap bangunan-bangunan megah yang selama ini menjadi tempat belajar dan bermain, rasanya aku seperti tidak akan datang kembali ke sekolah ini yang telah menyimpan banyak kenangan bersama teman-temanku.

***

Semenjak libur sekolah dan mendengar kabar bahwa sekolahku ditutup. Hidupku dipenuhi dengan rasa kebosanan, sebab hari-hari hanya aku lalui di dalam rumah. Tak ada teman untuk aku ajak bermain.   Kondisi negaraku saat ini tidak begitu aman. Lima sekolah sudah dimusnahkan, satu di antaranya yang terletak di dekat rumahku. Melihat buldozer yang menghantam bangunan yang sudah lama dikosongkan itu membuat hati ini tersayat-sayat. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat untuk menggali pengetahuan kini harus hancur dalam hitungan detik.

Suasana di kota Swat sangat sepi bahkan tidak ada seorang pun yang berani keluar dari rumah bahkan pergi ke sekolah. Beberapa temanku sudah sudah pergi meninggalkan kota Swat. Mengingat situasi sangat membahayakan. Aku pun tidak berani untuk keluar rumah. Aku hanya duduk di depan meja belajar sambil menulis catatan-catatan kecil dalam buku diary pemberian ayah.

Kalimat pertama yang aku tulis dalam catatan diary, “aku sangat mengutuk keras atas tindakan arogansi militer Taliban yang  melarang perempuan untuk bersekolah. Meski aku seorang gadis kecil berusia 11 tahun tidak akan menyurutkan langkah ini untuk  memperjuangkan hak anak-anak khususnya perempuan untuk bersekolah.”. Kalimat-kalimat itu aku tuangkan begitu saja yang bercampur dengan rasa kekesalan yang berkecamuk. Buku diary pemberian ayah ini akan menjadi saksi betapa brutal dan kejamnya kelompok penguasa itu.

Jam sebelas malam mata ini belum juga terpejam. Suasana makin hening. Ada sebuah radio yang aku taruh berjajar di antara buku-buku koleksiku. Aku putar untuk membuyarkan kesunyian ini mendengarkan pidato dari petinggi Taliban Maulana Shah Dauran yang terdengar begitu lantang. Dalam pidatonya menyampaikan bahwa besuk akan ada hukum cambuk untuk tiga pencuri.  Shah Dauran menawarkan pada kami yang ingin melihat prosesi hukuman itu. Dia pun juga mengatakan, sekolah yang dijadikan markas oleh para tentara akan diledakkan. Maulana Shah Dauran juga mengingatkan pada para perempuan untuk tetap dirumah dan larangan untuk tidak bersekolah

Aku terkejut mendengar maklumat dari  salah satu petinggi Taliban itu. Kenapa para tentara tidak menghentikan aksinya? Apa ada yang salah dengan seorang perempuan jika bersekolah? Segala uneg-uneg yang berkecamuk di dalam diri ini aku muntahkan ke dalam buku diaryku. Semoga saja catatan kecilku suatu saat nanti dibaca diseluruh dunia. Betapa mirisnya perempuan hidup di negara ini.

***

Aku terbangun mendengar gemuruh tembakan artileri dan suara dentuman bom di pagi buta. Bukan hanya suara artileri namun juga banyak suara-suara helikopter yang berada di atas rumah. Aku sangat takut sekali. Ayah, ibu dan juga adikku mengajak bersembunyi.  Setiap rumah di Swat sudah di desain memiliki ruangan tersembunyi di bawah tanah. Tempat yang sangat sunyi dan hening itu kami jadikan persembunyian untuk sementara.

Melihat kondisi di Swat yang sudah tidak aman. Ayahku mengajak kami sekeluarga untuk mengungsi di  Kota Islamabad.  Aku sangat senang sekali. Bahagia menyelimuti terbesit ada keinginan untuk bersekolah di kota yang terkenal dengan Bungalownya.

Dalam perjalanan meninggalkan kota Swat para tentara Taliban melakukan pencarian. Namun, tidak terjadi apa pun pada kami. Ketakukan kami sedikit berkurang.

Selama di kota Islamabad kami tinggal di rumah teman ayahku. Kotanya sangat indah banyak bungalow yang ditanam begitu rapi berjajar di pinggir jalan. Selain itu jalan raya juga lebar. Tentu saja kota ini sangat jauh berbeda dengan tempat tinggalku dulu dan ini merupakan pertama kali aku ke kota. Ayah juga mengajakku jalan-jalan ke Museum  Lok Virsa. Aku belajar banyak selama tinggal di Islamabad. Meski aku masih berharap suatu saat nanti dapat kembali ke sekolah.

Aku sangat kecewa setelah mendengar kabar dari temanku melalui via telepon. Bahwa situasi di Swat semakin buruk dan ia menyarankan padaku agar aku tidak usah kembali lagi. Ia juga mengatakan bahwa operasi militer telah ditingkatkan dan hari ini telah terjadi penembakan pada pemberontak hingga mengakibatkan sebanyak 37 nyawa melayang. Selain itu sekolah-sekolah di Swat juga masih ditutup.

Medengar kondisi tanah kelahiranku semakin terpuruk. Aku menuangkan gagasan dalam sebuah tulisan yang berisi protes keras atas tindakan arogansi Taliban ke dalam sebuah blog  BBC News. Pertama ada sedikit rasa khawatir jika tulisan ini muncul. Namun ayah yang seorang atar bekang jurnalis selalu menyemangatiku. Akhirnya, aku  dibantu ayah agar tulisan-tulisan itu dpt dimuat di blog BBC News meski melaui perantara temannya.

Taliaban sudah menjajah tanah kelahiranku  sejak tahun 2007. Mereka menutup sekolah-sekolah dan melarang perempuan untuk bersekolah.  Taliban merupakan kelompok teroris bentukan AS saat perang melawan pengaruh Soviet, melarang anak-anak perempuan untuk pergi ke sekolah. Menurut mereka, perempuan yang bersekolah merupakan simbol kebudayaan Barat. Tentu saja ketika menulis di blog BBC News dengan berbahasa Urdu,  agar identitasku tidak diketahui selain itu  aku menggunakan nama pena Gul Makai yang artinya bunga jagung.  Bukan hanya diblog saja pemikiran-pemikiran ini aku tulis. Keberanian di dalam diri sudah mulai tumbuh untuk menyiarkan tulisan-tulisan  di koran-koran  agar masyarakat dunia tahu atas kebejatan Taliban. Tulisan-tulisan itu awalnya merupakan kumpulan catatan kecil yang pernah aku tulisan dalam buku diary. Melihat hal itu tentu saja ayahku sangat senang dengan keberanianku meski suatu saat nanti bahaya mengancam. Meski usiaku masih belia namun semangat untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan dan dunia pendidikan tidak akan pernah hilang dari kehidupanku. Teman-temanku mengenal aku sebagai gadis kecil yang pemberani. Banyak yang mendukung gerakanku ini.

Sifat kritis yang aku miliki ini merupakan hasil dari warisan ayah. Selain itu ayah juga sering membawa diriku menghadiri forum-forum jurnalis dan seminar serta diskusi.

Tulisan-tulisanku di blog BBC News semakin membuat Taliban gusar dan meradang. Hingga suatu kali mereka memberikan ancaman padaku melalui akun media sosialku bahkan surat kaleng. Mereka berusaha mencari identitas asliku. Akhirnya identitas asliku diketahui mereka.

Hingga pada siang hari yang cukup terik udaranya berembus. Di saat naik bus bersama teman-temanku di tengah perjalanan ada sekelompok pria bertopeng bersepeda tiba-tiba mencegat dan menghentikan bus yang aku tumpangi. Dengan langkah kasar, segerombolan pria bersenjata itu memasuki  bus dengan paksa. Semua penumpang yang sebagian besar adalah anak-anak perempuan ketakutan. Gerombolan bersenjata itu ternyata mencariku. Mereka menyebut namaku, “di mana Malala?!” sambil menondongkan senjata. Malala merupakan nama asliku. Semua penumpang bus terdiam penuh dengan rasa takut. Akhirnya, mereka menemukanku. Aku pun panik, takut dan tidak dapat berbuat apa-apa. Sebuah tembakan mengarah padaku. Timah panas langsung mengenai leherku. Tubuh ini terkulai bersimbah darah. Tubuhku limbung dan jatuh terkapar. Nafas ini masih tersengal-sengal. Sedikit mata ini terbuka  melihat semua orang  di dalam bus takut dan  berlarian mencari pertolongan. Mata ini tak sanggup untuk bertahan dan akhirnya tertutup terasa gelap.**

 Biodata

Agus Yulians memiliki nama asli Agus Yulianto. Suka menulis cerpen, cernak, puisi dan esai. Tulisan-tulisanya terhimpun dalam sebuah antologi. Buku antologi puisi terbarunya perjamuan kopi di kamar kata (2018), Prosa Pendek Pengkhianatan (2018), kumpulan esai Pendidikan Abad 21 Program Pascasarjana UPI (2018), Buku terbarunya kumpulan esai Gagasan Guru Konyol Gado-gado Pendidikan, oleh Natural Media Publishing(2018), Buku duet motivasi The Notes of Love (2019) Penerbit OASE Pustaka Solo, Antologi Semarak Sastra Malam Minggu Sepasang Camar Simalaba Penerbit Perahu Litera (2018), Antologi kumpulan esai Aku, Buku dan Masa Depanku  penerbit Diva Press (2019), kumpulan kisah Memoar Bahagia Bersama Ibu Tercinta  Penerbit DIOMEDIA Solo (2019), dll. Selain itu beberapa  Cerita Pendek, Cerita Anak, Puisi, dan beberapa esainya pernah dimuat di koran Harian Umum Solopos, Harian Umum Joglosemar, Majalah on line Simalaba, Majalah Nur Hidayah, Nusantara News, Flores Sastra, Majalah Hadila, portal Islam Pos dan lain sebagainya. Penulis Tinggal di Dusun Ngemplak RT 02/02, Suruh, Tasikmadu Karanganyar Jawa Tengah. Alamat email: [email protected]. Fb/IG: Agus Yulians.

FB: Agus Yulians/IG : yuliagusyulianto(Agus Yulians)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

%d bloggers like this: