Miqat Perjalanan

Di saat-saat seperti apakah engkau menemukan Tuhanmu?

Apakah saat Ia melimpahimu dengan kesenangan? Saat nikmat terasa sangat derasnya. Atau justru kesulitan hidup yang membuatmu runtuh. Ketika hidup terasa gelap. Seperti yang dirasakan Yunus a.s. Tak ada jalan keluar. Gulita. Sendirian di dalam perut ikan. Dikurung tembok daging raksasa. Di tengah kedalaman lautan. Dilamun malam yang hitam.

Apakah engkau menemukan Tuhanmu?

Mahmud termangu. Tubuhnya terguncang-guncang saat bus yang ia naiki keluar dari mulut terminal. Ia duduk sendirian. Bangku di sampingnya kosong. Mahmud duduk di sebelah jendela. Waktu baru selepas pukul 05.30 pagi. Banyak bus lalu lalang di Terminal Parung, Bogor. Ada yang baru berangkat. Ada juga yang pulang. Aspal yang sudah mulai koyak, mengambingkan badan bus ke kanan dan ke kiri. Seperti pikiran Mahmud yang terayun-ayun saat ini. Apakah ia serahkan semua atau sebagian saja? Jika semua, tabungannya akan benar-benar habis. Jika sebagian, apa tidak terlalu sedikit? Sedangkan ia adalah santri PNS yang bekerja di Kota Hujan. Demikian teman-teman alumni pondok mengenalnya. Masak, PNS cuma sedekah segitu saja? Terlalu sedikit. Malu. Lalu, diputuskanlah Mahmud, bahwa ia akan menyedekahkah seluruh tabungannya.

Namun, apakah ia memberi benar-benar untuk Tuhannya? Atau justru untuk dirinya sendiri?

Mahmud kembali terdiam. Badan bus agak oleng ketika dalam posisi berbelok tetapi harus melewati gundukan aspal. Demikian juga hati Mahmud. Jika semua ia sumbangkan, apakah nanti ia tidak menjadi sombong? Maka, sia-sia lah sedekahnya jika itu yang terjadi. Lalu, bukankah sedikit tapi ikhlas akan lebih baik? Bukankah amalan hati lebih utama dari sekadar yang tampak, meskipun banyak?

Pikiran Mahmud makin berlarian!

HP Mahmud bergetar. Ia lalu menerima telepon.

“Sampai mana, Mas?” tanya istrinya.

“Baru keluar Ciputat. Ini mau masuk tol,” jawab Mahmud.

“Jadi gimana, Mas. Mau semuanya atau sebagian?” setelah itu terdengar suara tertawa di telepon seberang. Istrinya menebak, jika saat ini Mahmud masih gamang tentang keputusan sedekahnya.

“Hehe. Kamu tahu juga Dek kalau aku lagi kepikiran,” Mahmud terkekeh.

“Lah, iya. Sudah seminggu lebih Mas bimbang. Mau semuanya atau sebagian,” ledek istrinya.

Mahmud tertawa lebar. Bukan sesuatu yang lucu. Tapi ia menertawakan dirinya. Sudah lebih dari seminggu, masih saja ia tidak bisa memutuskan.

Bismillaah Mas. Semuanya saja. Kan ini untuk pesantren,” saran istrinya.

“Kamu tidak apa-apa kalau dikasih semuanya, Dek?” tanya Mahmud.

“Ya nggak apa-apa. Malah seneng bisa ngasih banyak. Tapi, kan yang mau make uang itu Mas, bukan aku? Hehe.. ” Kembali terdengar suara tertawa di seberang. Mahmud tidak menjawab, namun mulutnya tertawa lebar. Selebar kebimbangannya yang menganga makin tak karuan.

Segalanya menjadi selalu mungkin: Barangkali karena ada rumah kanak-kanak dalam batin kita yang penuh senyum dan gelak tawa.2

Mahmud membuka tasnya. Ia memandangi amplop kosong berwarna cokelat dan dua gepok uang. Setiap gepok berisi 5 juta. Jika semuanya, maka total 10 juta. Mahmud bimbang, memberikan semuanya atau hanya sebagian saja. Uang itu sebenarnya akan dipakai Mahmud untuk mendaftar umrah tahun ini. Uang yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit dari sisa gajinya. Sejak ia menjadi PNS lima tahun lalu, keinginan Mahmud hanya satu: berangkat umrah. Maka, mulailah ia menabung sejak tahun pertama ia bekerja. Tapi, Tuhan punya rencana berbeda. Tabungan di tahun pertamanya dipakai Mahmud untuk mengontrak rumah. Tahun kedua, istrinya melahirkan caesar. Tahun ketiga, adik perempuan Mahmud masuk kuliah kedokteran. Tahun keempat, gantian Mahmud yang masuk pascasarjana. Tabungannya selalu terpakai tiap tahun. Maka, di tahun kelima, Mahmud bertekad—apapun yang terjadi—pokoknya tabungannya harus “selamat”. Harus ia pakai mendaftar umrah. Meskipun baru 10 juta, paling tidak Mahmud tinggal mencari kekurangannya.

Hanya saja, seminggu yang lalu Mahmud mendapatkan telepon dari pesantren. Ia diminta datang di acara milad pesantren sekaligus peletakan batu pertama pembangunan aula yang baru. Pesantren berencana membangun aula yang bisa menampung lebih banyak santri. Sebab, tiap tahun jumlah santri makin bertambah. Dalam benak Mahmud, ini adalah isyarat. Mahmud diminta datang berarti diminta ikut andil dalam pembangunan. Maka, pembangunan berarti menyumbang. Jika datang, maka Mahmud setidaknya harus membawa cukup uang untuk disumbangkan.

Mahmud tidak bisa menghindar karena yang meneleponnya adalah Ustadz Nawawi. Teman akrab Mahmud semasa nyantri. Ustadz Nawawi juga putera Kyai Idris, pemilik sekaligus pengasuh pesantren. Jadi, mau tidak mau Mahmud harus datang.

Sampeyan harus datang lho, Kang,” kemudian Ustadz Nawawi melanjutkan, “Ini yang minta bukan hanya para alumni, tapi Mbah Kyai Idris, juga menghendaki sampeyan datang.”

“Insya Allah..” jawaban Mahmud mantab. Tapi sesungguhnya batinnya gamang. Dalam benaknya sudah terbayang: tahun kelima sepertinya gagal lagi!

Mahmud mendesah. Pandangannya menembus keluar jendela bus. Bayangan mobil berlalu lalang. Bersicepat dengan asap deru yang memburu.

Apakah ia terburu-buru? Apakah salah punya keinginan untuk berangkat umrah? Apakah belum waktunya ia menjadi tamu di rumah-Nya? Memakai ihram, mengumandangkan talbiyah, melakukan thawaf, kemudian sa’i. Apakah harus tertunda lagi kerinduannya untuk berziarah ke makam Nabi Saw. Melaksanakan shalat dan berdoa di Raudhoh. Lalu menghabiskan malam dengan membaca Al-Qur’an di Masjid Nabawi. Membayangkan, mengaji binnadhor, disemak dan talaqqi langsung di hadapan Kanjeng Nabi Saw. Alangkah nikmatnya!

HP Mahmud bergetar. Lamunannya buyar.

Mahmud membuka grup perpesanan alumni pesantren. Ada kiriman gambar aula pesantren yang baru dan biaya yang dibutuhkan. Totalnya hampir mencapai 1 miliar.

“Masya Allah. Banyak juga biayanya,” Mahmud bergumam sendiri.

Mahmud lalu teringat keajaiban pada banyak kisah yang ia temukan di buku-buku. Kisah tentang seseorang yang tidak jadi ke tanah suci karena uang tabungannya habis disedekahkan. Tapi justru banyak yang menyaksikannya sedang ibadah di kota Makkah. Ada jama’ah yang melihat orang itu di sekitar Ka’bah. Ada yang melihatnya sedang thawaf. Bahkan, ada yang melihatnya sedang antri tahallul.

Mahmud terkekeh, membayangkan dirinya menjadi orang itu. Tapi, bisakah ia? Apakah hatinya sebersih itu, hingga ia berhak mendapat anugerah itu? Ia menggelengkan kepalanya. Lalu beristighfar. Berkali-kali. Berulang lagi. Mengusir pikiran-pikiran usil yang berlarian menggodanya.

Mahmud menghela napas panjang. Kali ini ia telah memutuskan. Ia mengambil HP lalu mengirim pesan kepada istrinya, “Bismillah. Semuanya.” Mahmud tidak menunggu istrinya membalas pesan. Ia memasukkan HP ke saku bajunya lalu membuka tasnya kembali. Mahmud tampak memasukkan dua gepok uang ke dalam amplop cokelat. Kemudian mengelemnya.

Bus berjalan landai. Setenang pikiran Mahmud atas keputusan yang telah diambilnya. Di TV bagian depan, sopir memutar video terbaru almarhum Didi Kempot. Lamat-lamat terdengar lagu, “… Kelingan awakku sing ra tau ngerasa syukur. Kabeh apa sing tak suwun Gusti Allah turuti…3

— o0o —

baca: Sesederhana Bahagia

Selepas pemberhentian Bus di Indramayu, seseorang telah mengisi bangku kosong di sebelah Mahmud. Seorang ibu-ibu paruh baya. Pakaiannya agak lusuh. Mahmud baru menyadari ketika ia terbangun telah menemukan ibu itu duduk di sampingnya. Mahmud mengingsut dari tempat duduknya. Memberi jarak pada Si Ibu.

Mahmud tersenyum dan menyapa, “Sudah dari tadi ya, Bu?”

“Barusan kok. Ibu baru naik di Indramayu,” jawab Si Ibu.

“Mau kemana, Bu?”

“Ibu mau ke Semarang. Adek?”

“Saya turun di Kudus,” jawab Mahmud.

Obrolan itu berlanjut. Mahmud kemudian mengetahui bahwa ibu itu sedang terburu-buru karena mendapat kabar anak perempuannya mengalami kecelakaan kerja. Harus dirawat di rumah sakit dan butuh banyak biaya. Anaknya bekerja sebagai buruh pabrik di Semarang.

“Kok Ibu yang berangkat, bukan Bapak?” Mahmud bertanya.

“Saya sudah pisah lama dengan suami. Sudah 15 tahun. Anak-anak saya yang membesarkan sendiri. Yang di Demak ini anak pertama saya. Tiga anak saya lainnya masih sekolah semua di Indramayu,” Si Ibu melanjutkan ceritanya.

Mahmud acuh tak acuh mendengarkan cerita. Ingin ia menukas Si Ibu agar menghentikan ceritanya. Tapi Mahmud tidak tega. Ia teringat umminya di kampung halaman. Usia ibu itu tidak jauh berbeda dengan usia umminya.

Maka, sejenak Mahmud melupakan uang sumbangan pesantren. Ia hanyut dalam cerita Si Ibu. Tentang kesulitan-kesulitan hidup yang dialami. Tentang kepedihan yang harus dihadapi demi bertahan hidup dan merawat anak-anaknya.

Tidak sadar, Mahmud menggenggam erat tasnya. Berkali-kali ia beringsut membetulkan posisi duduknya. Memastikan bahwa tas gendong berisi amplop cokelat itu aman berada dalam dekapannya.

Memasuki Cirebon, ibu itu berhenti bercerita. Ia melihat Mahmud mulai mengantuk. Beberapa kali, Mahmud merem melek, kemudian kepalanya terhuyung ke kiri dan ke kanan. Sebentar kemudian Mahmud telah benar-benar pulas terpejam.

Beribu saat dalam kenangan. Surut perlahan. Kita dengarkan bumi.

Menerima tanpa mengaduh. Sewaktu detik pun jatuh.4

Mahmud tidur seperti orang pingsan. Ia tidak sadar tas gendong yang didekapnya tiba-tiba melorot. Nahas bagi Mahmud, tas gendongnya tidak tertutup dengan sempurna. Tas itu jatuh melorot ke samping. Mulut tas terjungkir ke bawah. Barang-barang bawaan Mahmud tumpah ruah berjatuhan. Tak terkecuali amplop cokelat yang disimpan Mahmud. Terlempar keluar jatuh tepat di sebelah kaki Si Ibu.

— o0o —

Bus melaju mengikuti arus waktu. Menelan jam dan menit. Menyisakan detik yang menguap tak terasa. Bus telah melewati Semarang dan sebentar lagi memasuki gerbang Kota Wali, Demak. Bangku di sebelah Mahmud telah kosong. Suara dengkuran Mahmud lamat-lamat terdengar. HP di saku bajunya tampak berkedip menyala mati berganti-ganti. Tanda ada panggilan masuk. Namun, Mahmud tak menyadarinya. Justru, dengkurannya semakin keras. Berselang-seling dengan kedip nyala mati HP di sakunya. Panggilan masuk telah diulang yang kedua kali.

Nggak diangkat?” Kyai Idris kembali bertanya.

Mboten, Bah. Mungkin Kang Mahmud ketiduran. Coba saya telpon lagi.” jawab Ustadz Nawawi sambil kembali menelepon yang ketiga kalinya.

Kali ini Mahmud merasakan HP nya bergetar. Ia kaget. Lalu buru-buru mengangkat telepon.

“Sampai mana, Kang?” terdengar suara Ustadz Nawawi di seberang.

Mahmud bergegas memandang keluar jendela. Ia melihat sungai di sepanjang jalan dan sawah-sawah yang luas bergandeng-gandeng. Lalu ia menjawab telepon.

Sebentar kemudian Ustadz Nawawi mengangguk-angguk, “Oh, Demak.. ya bentar lagi berarti. Nanti kalau sudah di Terminal Kudus, kabari ya, biar nanti dijemput santri.”

Mahmud menutup HP nya dan merasakan ada yang kurang. Ia baru tersadar jika tas gendongnya tidak lagi ada di dekapannya. Ketika ia melihat ke bawah, tas dan barang-barang bawaan Mahmud tercecer tak karuan.

Ia bergegas mengambil barang-barang yang berjatuhan. Mengumpulkannya satu-satu. Hati Mahmud berdesir, “Amplop cokelat uang sumbangan…” Tapi, amplop cokelat itu tak kunjung ketemu. Ia berdiri, keluar dari kursi, lalu jongkok melihat ke bawah jok. Di lantai bus. Di deretan kursinya. Lalu deretan di depan dan belakangnya. Namun tetap sama: amplop cokelat itu tidak ada!

Mahmud melihat ke seluruh bangku. Hanya tersisa beberapa orang saja di bagian depan. Bangku-bangku di sekitar Mahmud semuanya telah kosong. Sebagian besar penumpang telah turun. Badan Mahmud langsung lemas. Pelipisnya mulai keluar keringat dingin. Amplop uang sumbangan pesantren tidak ketemu. Mahmud lalu mencoba bertanya kepada kernet dan sopir. Tapi hasilnya juga sama: tidak tahu tentang amplop cokelat itu. Mahmud juga bertanya tentang ibu-ibu yang duduk di sebelahnya. Kernet bilang bahwa Si Ibu turun duluan di daerah Semarang.

Kaki Mahmud terasa lemas. Napasnya naik turun tak beraturan. Pikirannya tak karuan. Tubuhnya basah oleh keringat. Ia kembali duduk. Gusti, 10 juta, uang sumbangan untuk pesantren telah hilang? Sia-sia sudah. Uang tabungannya lenyap tak berarti. Tidak terpakai untuk mendaftar umrah juga tidak bisa menyumbang pesantren.

Astaghfirullaah,” Mahmud beristighfar berkali-kali. Berulang kali pula ia menyalahkan dirinya, “Ya Allah, betapa bodohnya. Kok bisa seceroboh ini. Astaghfirullah.”

Mahmud mengambil HP. Ingin ia memberi kabar istrinya. Tapi bagaimana cara memberi tahunya? Bisakah ia menyampaikan kabar ini? Mahmud tidak sanggup. Ia batalkan teleponnya. Pikiran Mahmud menduga-duga. Apakah Si Ibu yang mengambilnya? Ya, bisa jadi. Kan Si Ibu butuh uang. Tapi, bisa juga penumpang lainnya. Mereka yang duduk di deretan depan, belakang, atau siapa saja yang melihat amplop itu bisa saja menjadi pencurinya. Dugaan-dugaan itu membuat pikiran Mahmud makin kalut.

Ditambah kekhawatiran yang datang bertubi. Bagaimana nanti ia bilang ke istrinya? Apa yang ia katakan saat bertemu Kyai? Semuanya datang dengan sedekah terbaik. Sedangkan, dirinya? Apa Datang hanya dengan “tangan kosong”? Lalu… dan beribu kekhawatiran lainnya!

— o0o —

Di pesantren, Kyai Idris tersenyum. Ia teringat Mahmud sewaktu dulu masih menjadi santri. Mahmud memang terkenal ngantuk’an. Gampang tidur. Asal punggungnya nempel sesuatu, bisa dipastikan langsung tidur. Mahmud kalau tidur seperti orang pingsan. Tapi, meskipun ngantuk’an, Mahmud termasuk santri yang paling cekatan. Ia rajin dan mudah dimintai bantuan. Karena itulah Mahmud awet menjadi santri ndalem selama mondok di pesantren. Yang paling diingat Kyai Idris adalah kesukaan Mahmud membersihkan kiswah di ruang tamu ndalem Kyai. Tidak ada yang bisa membersihkan kiswah sebersih dan selicin pekerjaan Mahmud. Karena itu, Kyai Idris selalu mempercayakan Mahmud membersihkan kain penutup Ka’bah itu.

Kyai Idris memandang selembar kertas berbahasa Arab dengan kop surat bertuliskan Kerajaan Arab Saudi. Tahun ini pesantren mendapat undangan haji khusus. Gratis. Semua biaya sudah ditanggung. Biasanya, yang berangkat adalah keluarga ndalem pesantren secara bergantian: Kyai Idris, Bu Nyai, putera-puterinya, kadang juga para asatidz sepuh. Namun, tahun ini Kyai Idris ingin mengajak Mahmud untuk berangkat haji. Mahmud akan menggantikan Ustadz Nawawi yang berhalangan karena harus munaqosyah ujian disertasi. Kyai Idris ingin menyampaikan berita ini secara langsung kepada Mahmud, nanti kalau sudah sampai di pesantren.

— o0o —

Sementara itu, Mahmud telah sampai di terminal Kudus. Ia duduk sendiri di ruang tunggu. Hatinya masih bimbang. Ia tidak langsung memberi kabar Ustadz Nawawi jika ia telah sampai di tujuan. Pun juga istrinya, belum juga ia beri tahu. Pikirannya masih tak karuan. Ia belum bisa merelakan amplop cokelat itu. Mahmud belum bisa memaafkan kecerobohannya. Hilang. Tak berbekas. Uang tabungannya tak bernilai apa-apa.

Calo tiket bus berjalan mendekat ke arah Mahmud sambil berteriak, “Bogor… Bogor… Bogor… berangkat sebentar lagi.”

Sejenak Mahmud berpikir, ingin kembali pulang langsung ke Bogor!

Penulis, M. N. Furqon

 

Catatan:

1 Miqat adalah batas bagi dimulainya ibadah haji (batas-batas yang telah ditetapkan). Apabila melintasi miqat, seseorang yang ingin mengerjakan haji perlu mengenakan kain ihram dan memasang niat. Miqat digunakan dalam melaksanakan ibadah haji dan umrah.

2 Cecep Syamsul Hari dalam Sebelum Makan Malam pada antologi puisi Efrosina (Horison dan PT Cakrawala Budaya Indonesia, 2005).

3 Penggalan dari syair lagu “Istighfar Sak Kuate” yang dinyanyikan Didi Kempot (alm.). Terjemahan: teringat aku yang tak pernah bersyukur. Semua yang ku pinta Allah SWT selalu mengabulkan.

4 Sapardi Djoko Damono dalam Sajak Putih pada antologi puisi Duka-Mu Abadi (Pustaka Jaya, 1975).

 

 

%d bloggers like this: