UNS Jalin Kerja Sama dengan Idaqu dan STMIK Antar Bangsa

SOLO – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta resmi menjalin kerja sama dengan Institut Daarul Qur’an (Idaqu) dan Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Antar Bangsa. Penandatanganan nota kesepakatan tersebut dilakukan langsung oleh Rektor UNS, Prof. Jamal Wiwoho, di Ruang Sidang 2 Gedung dr Prakosa UNS, pada Jumat (19/2/2021).

Penandatanganan tersebut dihadiri juga oleh Pimpinan Utama Yayasan Daarul Qur’an Indonesia, Ustaz Yusuf Mansur, Rektor Institut Daarul Qur’an, Dr. Muhammad Anwar, S.Sos.I., M.E., dan Ketua STMIK Antar Bangsa Tarmidzi Ashidiq, M.A. Perlu diketahui, kedua perguruan tinggi tersebut berada di bawah naungan Yayasan Daarul Qur’an Indonesia.

Kerja sama yang dilakukan ketiga perguruan tinggi ini dimaksudkan untuk menyinergikan potensi masing-masing pihak guna memperoleh hasil yang maksimal di bidang pendidikan, penelitian, maupun pengabdian masyarakat. Bentuk kerja sama yang akan terwujud berupa pemberian kuliah tamu, kolaborasi dalam kegiatan penelitian, pendidikan, pengabdian masyarakat, seminar, dan studi lanjut dari para dosen di dua perguruan tinggi di UNS.

“Kami ingin belajar dengan UNS yang sudah hampir 45 tahun mengembangkan universitas hingga di titik ini. Kami baru satu tahun berjalan jadi masih perlu banyak belajar dari senior,” ujar Yusuf Mansur.

Sementara itu, Rektor UNS, Prof. Jamal berharap dengan adanya kerja sama ini ketiga pihak dapat saling bersinergi dan memberikan dampak positif bagi perkembangan masing-masing intitusi. Prof. Jamal mengibaratkan penandatanganan ini sebagai akad nikah sehingga ke depannya harus ada anak atau hasil yang dilahirkan dari kerja sama tersebut.

baca: Menko PMK Sebut Hikmah Covid-19 Lahirkan Banyak Inovasi

Selain itu, beliau juga berharap kerja sama berjangka dua tahun ini dapat menambah ahli-ahli quran di UNS seperti halnya di Yayasan Daarul Qur’an yang berisi para ahli dan penghafal alquran.

“Kita sudah bermitra dengan Institut Daarul Qur’an dan STMIK Antar Bangsa maka harus ada value added (nilai tambah) entah dalam bidang pendidikan, riset, bidang pengabdian masyarakat, publikasi, maupun pertukaran dosen,” jelas Prof. Jamal.

%d bloggers like this: