Semangat Humas Sekolah Penggerak Belajar Menulis Berita

SOLO – Sejak SD Muhammadiyah 1 Ketelan ditetapkan sebagai Sekolah Penggerak oleh Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen) pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) berdasarkan surat keputusan bernomor 6555/C/HK.00/2021 tanggal 30 April 2021 yang ditandatangani Direktur Jenderal Jumeri, Wakil Kepala Sekolah bidang Humas semangat belajar menulis berita di tengah pandemi Covid-19.

“Jurnalistik asyik, terima kasih kepada kepala sekolah Hj Sri Sayekti MPd yang telah memberikan kesempatan untuk belajar di Tempo Institute secara online #kelas tanpa batas,” ujar Jatmiko, setelah menerima sertifikat tertanda tangan Direktur Tempo Institute, Qaris Tajudin.

Yang paling saya ingat di materi bertajuk ‘Jurnalistik dasar: Langkah Awal Jadi Jurnalis’ dari 12 bagian dengan 94 halaman adalah bagaimana cara mengambil angle berita yang menarik.

Elemen baku berita disingkat menjadi 5W+1H: What, Who, When, Where, Why, & How. Peristiwanya apa, kapan dan di mana, melibatkan siapa, mengapa bisa terjadi, dan bagaimana kejadiannya. Kita bisa membedakan kejadian (insident, accident) dengan peristiwa (event).

“Pekerjaan jurnalistik melewati tiga proses, yakni pengumpulan bahan (reporting: riset, liputan lapangan), penulisan (writing), dan penyuntingan (editing),” ujarnya.

Tips menulis kalimat dalam berita. Gunakan kalimat sederhana. Keep it simple and short (KISS). Satu arti dalam sebuah kalimat. Harus jelas subyek dan predikatnya. Siapa melakukan atau berbuat apa. Dalam satu kalimat jangan lebih dari 11 kata. Lebih pendek lebih baik dan akan lebih kuat dalam pemaknaan.

baca: Majelis Dikdasmen Solo Gelar Lomba Murattal Nahawand Juz 30

Gunakan kalimat aktif (awalan me), bukan pasif (awalan di). Kalimat aktif Lebih bertenaga. Gunakan diksi (pilihan kata) sebagai cara untuk membuat kalimat yang lebih bervariasi. Bisa kata yang setara atau bermakna sama. Bisa juga memiliki makna atau arti yang gradual.

“Hindari kata-kata klise. Dahulu, misalnya, suka dipakai frasa “pembangunan manusia seutuhnya”. Hindari eufemisme (penghalusan kata dengan makna yang sesungguhnya sama),” ungkap kontributor terbaik 1 versi jurnalismu Jawa tengah.

Terakhir, biasakan memanfaatkan peribahasa, kiasan, metafora, atau gaya bahasa yang lain untuk menjadikan tulisan lebih enak dibaca. Perkaya dengan peribahasa yang belum banyak dipakai.

Berikut ini peribahasa atau perumpamaan yang acap dipakai: bagai pungguk merindukan bulan, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, bagai air di daun talas, dst. Atau kiasan seperti: dia tak ubahnya Sisyphus, seperti David melawan Goliath, gagah bagaikan Werkudara, dan seterusnya. []

%d bloggers like this: