Solo Raya

Forsitama Gelar Seminar Dampak Negatif Narkoba, Gadget, Pornografi dan LGBT

SUKOHARJO-FORSITAMA (Forum Silaturahmi Takmir Masjid dan Musholla) Desa Cemani bekerjasama dengan Pemerintah Desa Cemani, Grogol menyelenggarakan kegiatan Seminar Edukasi, tentang Problematika Generasi Muda, Ahad (30/10/22).

Kegiatan tersebut dimulai pukul delapan pagi hingga menjelang sholat luhur. Acara diselenggarakan mengingat maraknya masalah-masalah yang muncul di kalangan pemuda, khususnya di era globalisasi dan sekaligus dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Seminar yang bertemakan “Dampak Negatif Narkoba, Gadget/Game, Pornografi dan LGBT”, berlokasi di Gedung Graha Sejahtera, Cemani, dihadiri oleh 300-an peserta dari berbagai kalangan, diantaranya Takmir Masjid Musholla, Pengurus Pengajian Putri, Pengurus RT dan RW, serta kalangan Pemuda dan Remaja.

Acara dibuka dengan sambutan dari Kepala Desa Cemani, Hadi Indrianto, S.T. dan keynote speaker acara oleh Kapolres Sukoharjo, AKBP Wahyu Nugroho Setyawan, SIK. M.PICT., M.Krim.

Sedangkan pembicara seminar, Agung Sugiarto, atau akrab di panggil Kak Sinyo Egie, dari Yayasan Peduli Sahabat, dan juga seorang konsultan, dan Sri Mulyana, atau yang akrab dipanggil Pakdhe Jabrik, dari Ekspreso (Eks Preman Solo).

Kapolres Sukoharjo dalam sambutannya, memberikan apresiasi kepada FORSITAMA, sebuah lembaga masyarakat yang sangat peduli dengan kondisi masyarakat saat ini.

Pakdhe Jabrik yang juga pernah menjadi tahanan, menceritakan tentang pengalaman di penjara, dan kiat-kiat untuk dapat bertaubat serta istiqomah. Siapa sangka, ustadz yang dikenal dengan ceramah penuh makna yang disertai guyonan itu pernah mendekam di balik jeruji besi. Tak tanggung-tanggung, dia mengaku tujuh kali dibui.

“Tahun 1985 seharusnya saya masuk kuliah tapi saya justru masuk penjara pertama kali. Kuliah saya pindah di penjara, berbagai ilmu kejahatan saya peroleh. Hasilnya, setelah mencuri sepeda, karier melesat, saya dibui karena mencuri sepeda motor masih di usia belasan tahun,” ujarnya.

Sinyo Egie, Pendiri Yayasan Peduli Sahabat, menuturkan, “Awalnya di dunia ini hanya ada identitas heteroseksual yakni ketertarikan antara laki-laki dengan perempuan.” Kemudian, sejak tahun enam puluhan ada gerakan ‘Barat’ seperti liberalisme dan sekulerisme yang menyerukan pernikahan sesama jenis.

“Liberalisme dan sekulerisme sering memberi peluang masuknya LGBT karena memberi makna kebebasan,” jelasnya.

Ketua FORSITAMA, Ustadz Habib Ngadiri menyampaikan bahwa dengan kehadiran mereka (pembicara) sangat banyak memberikan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat. “Pakdhe Jabrik sangat menginspirasi bagi para peserta,” jelas Ustadz Habib Ngadiri

”Kami berharap agar peserta dapat mengambil pelajaran dari kisah Pakde Jabrik dan Ilmu dari Kak Sinyo Egie,” pungkasnya. []

%d bloggers like this: