Nusantara

Menelisik Kiprah Komunitas Anak Muslim Gunungkidul: Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Playen

GUNUNGKIDUL-Komunitas Anak Muslim Gunungkidul yang biasa disingkat KAM melakukan safari kegiatan yang bertajuk ‘KAM Goes to Masjid’. Kali ini masjid yang dikunjungi merupakan masjid di daerah Ngunut Lor, Playen.

Dalam kegiatannya, KAM bersama-sama dengan satriwan santriwati serta beberapa remaja masjid setempat. Selain berbagi takjil, kegiatan yang dilakukan antara lain, berkisah tentang sahabat nabi, games dan quis pengetahuan Islam, serta belajar mengenal sejarah kejayaan Islam.

Kegiatan yang berlangsung pada hari Selasa tanggal 4 April 2023 ini dilakukan untuk mengisi waktu menunggu berbuka puasa, santriwati santriwati sangat antusias dengan kisah-kisah sahabat nabi yang disampaikan, berkisah dengan peraga boneka sangat menarik bagi anak-anak, seolah olah kisah yang disampaikan sangat nyata.

Komunitas Anak Muslim Gunungkidul sendiri merupakan sebuah komunitas belajar dan bermain bagi anak-anak yang baru saja di launching di Playen beberapa waktu lalu, dengan mengusung konsep “fun learning”.

KAM akan menjadi wadah baru bagi anak-anak untuk belajar selain di sekolah. KAM yang dirintis oleh bunda Etik Trisnawati, S. Pd, bersama bunda Siti Nurlaela, S. Pd ini berfokus pada pengembangan diri anak-anak dan memberikan berbagai macam edukasi.

Kegiatan yang dibuat seperti kelas literasi, kelas percobaan sains, cooking class, fun swimming, outbond, kunjung museum dan perpustakaan, jelajah Gunungkidul serta outbond dan Camping bersama keluarga dan masih banyak lagi.

Pada bulan Ramadhan kali ini, KAM menyelenggarakan beberapa kegiatan diantaranya, pesantren Ramadhan online, tadarus online bakda subuh, serta kunjungan ke berbagai masjid dan musholla.

Bunda Etik Trisnawati, S.Pd menjelaskan, kegiatan ini diharapkan bisa memberikan penyegaran dalam pergerakan dakwah masjid.

“Saat ini perkembangan kegiatan masjid sangat berbeda dengan tahun 90an dimana masjid saat Ramadhan di sore hari selalu penuh dengan anak-anak yang akan berkegiatan dan belajar sambil menunggu bedug Maghrib tiba,”katanya.

Lanjut Bunda Etik, suasana riuh dan semaraknya masjid saat itu menjadi momen yang sangat dirindukan di bulan-bulan berikutnya, berbeda dengan masa sekarang dimana tempat ngabuburit atau menunggu berbuka puasa bisa dilakukan dimana saja

Bahkan lebih menarik daripada di masjid, misal di pusat kuliner, di jalan-jalan, atau tempat-tempat wisata kini juga menyelenggarakan event menunggu berbuka puasa.

“Tetapi tentu saja tidak ada materi mengaji dan membaca Al Qur’an disana. Oleh karena itu Kami berusaha menjadi salah satu bagian yang ingin mengembalikan masa-masa dimana kita menunggu waktu berbuka puasa dengan bersama- sama menyemarakkan masjid,” ungkapnya. []

%d bloggers like this: