Nusantara

Lebih Dekat dengan Rohyati Sofjan Aktivis Penggerak Komunitas Difabel

GARUT-Rohyati Sofjan atau yang biasa disapa mbak Yati, perempuan dengan 2 putra dari dusun di wilayah Kecamatan Balubur Limbangan, Garut, Jawa Barat, adalah seorang tuna rungu.

Yati, kehilangan pendengarannya saat berusia 6 tahun karena kecelakaan saat naik sepeda, kepalanya membentur benda keras, kemudian secara perlahan-lahan pendengarannya mulai berkurang dan akhirnya hilang sama sekali.

Penyebabnya adalah ada teman main, anak lelaki yang dikenal nakal, mendorong sepeda yang ditumpanginya hingga menabrak pagar kawat berkarat, kepalanya terantuk pagar kawat dan telinga  terluka kena kawatnya. Tapi abai diobati dengan segera sehingga bernanah.  Kemudian ada peristiwa, Yati ditampar dengan keras oleh teman mainnya, hingga teras sakit sekali.

Yati saat itu tidak tahu apakah keduanya sebagai penyebab, Infeksi dan tamparan keras bagi seorang anak kecil itu berbahaya. Dunia Yati jadi berubah sunyi, pelan namun pasti.

Menjadi seorang tuna rungu, membuatnya sering mendapat perlakuan berbeda dari lingkungannya, sering di-bully, dianggap beban dan dikasihani adalah makanan sehari-hari bagi Yati.

Sudah menjadi stigma di masyarakat yang menganggap difabel adalah orang yang harus selalu dikasihani, tidak bisa apa-apa dan lain sebagainya. Hal itulah yang mendorong Yati untuk mengubah pandangan masyarakat.

Seiring waktu, Yati terus berikhtiar untuk menemukan potensi dirinya. Hingga suatu saat dia bertemu dengan komunitas Ibu Inklusif.

Ibu Inklusif, sebuah komunitas rintisan Institut Ibu Profesional yang fokus berkampanye mengenai kesetaraan dan mengikut sertakan kaum difabel dalam kegiatan bermasyarakat.

Bagi Yati, semua ciptaan Tuhan adalah baik, semua manusia setara sehingga keberadaan difabel dengan segala kelebihan dan kekurangannya di masyarakat adalah sesuatu yang tidak boleh diabaikan.

Dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh, Yati menemukan potensi diri dan  pelan-pelan masyarakat sekitarpun mulai menerima, meskipun masih ada juga yang menganggap difabel sebagai cela.

Kini Yati lebih produktif dengan menjadi narasumber berbagai seminar mengenai disabilitas, menjadi inisiator penggerak komunitas difabel dan menjadi aktivis media sosial.

Yati juga aktif sebagai penulis dan memiliki laman blog nya sendiri, www.rohyatisofjan.com, selain itu Yati juga menggagas audio book, sebuah inovasi buku bacaan yang dipersembahkan untuk teman-teman difabel.

Rohyati berharap keberadaan difabel bisa mendapat tempat dimasyarakat dan dapat berkarya seperti yang lain.

“Jangan ada lagi perisakan (bullying) pada difabel. Disabilitas karena keadaan dan Allah pasti punya tujuan. Bantu dan dukunglah teman-teman difabel agar bisa mengenal dan menggali potensi diri sehingga bisa fokus pada kelebihan untuk berdaya guna sebagai anggota masyarakat,”begitu pesan Yati. []

%d bloggers like this: