Solo Raya

Disangga Bambu, Bangunan Cagar Budaya Keraton Solo Usia 200 Tahun Rusak Parah Nyaris Roboh

SOLO-Bangunan bersejarah Keraton Kasunanan Surakarta, banyak mengalami kerusakan, salah satunya Sasana Mulya, bangunan yang menjadi tempat tinggal putra raja.

Bangunan yang masuk benda cagar budaya (BCB) ini kondisinya sangat memprihatinkan. Seluruh bagian bangunan rusak parah dengan atap yang nyaris roboh.

Meski tidak berada di dalam tembok inti Keraton, namun letaknya persis di depan Sasana Putra Keraton. Sasana Mulya saat ini ditempati putra mahkota Keraton Gusti Hangabehi, sebagai putra tertua Raja Keraton Surakarta, PB XIII.

Menurut Kanjeng Pangeran (KP) Eddy Wirabhumi, Sasana Mulya yang usianya sekitar 200 tahun, saat ini rusak parah, bahkan masuk kategori membahayakan.

Bagian atap kayu usuknya telah lepas dari kayu penyangganya (kerpus), demikian juga blandar hingga kayu tiang penyangga juga telah lapuk termakan usia.

Karena membahayakan, akses masuk Sasana Mulya kini ditutup dengan garis pembatas sampai adanya perbaikan.

“Kerusakan bangunan Sasana Mulya sebenarnya sudah lama, namun statusnya saat itu masih diwaspadai, namun setelah hujan deras disertai angin terjadi dalam beberapa hari terakhir ini, kerusakan bertambah parah. Bangunan mulai miring, sehingga statusnya menjadi membahayakan, karena atapnya mau roboh,” terang Kp Eddy, Jumat (05/01).

Melihat kondisi yang memprihatinkan itu, imbuh Eddy, segera diupayakan penanganan darurat, salah satunya dengan memasang penopang dari bambu agar atap tidak ambruk.

“Saat ini kita melakukan penanganan darurat biar tidak ambruk. Kita tidak punya pilihan, jadi kita lakukan perbaikan darurat,” kata Wirabhumi.

Para pekerja saat ini telah diterjunkan untuk menurunkan genteng sebagai upaya mengurangi beban agar atap tidak roboh sekaligus mengidentifikasi kerusakan sebelum dilakukan perbaikan total.

“Penurunan genteng saat ini dilakukan, namun sebelumnya diawali degan selamatan,” katanya.

Untuk perbaikan darurat ini, lanjut dia, anggarannya itu dari patungan atau iuran dari kerabat keraton hingga beberapa pihak.

“Anggarannya biasa dari patungan. Kita harus bergerak cepat untuk mengantisipasi agar tidak semakin parah. Jadi suka tidak suka, mau tidak mau harus ditangani,” ujarnya.

Pihaknya juga telah melaporkan kerusakan BCB Sasana Mulya kepada instansi terkait. Termasuk berkoordinasi dengan Pemkot Solo untuk mencari solusinya.

“Kita koordinasikan dengan Mas Wali Kota. Termasuk BPK Wilayah X Jateng bagaimana ini penanganan selanjutnya,” ucap dia.

Sementara itu seorang pekerja, Dirman mengatakan pemasangan bambu penyangga itu untuk menyangga beban atap. Lantaran tulang bangunan Pendopo itu sudah lapuk dan potensi roboh sangat besar.

“Saat ini dipasang penyangga dulu dengan bambu. Setelah itu akan fokus di bagian atas, gentengnya diturunkan,” ucap dia.

Sasana Mulya sendiri, selama ini menjadi tempat penting yang sering dipakai di acara-acara penting Keraton. Selain sebagai tempat tinggal putra raja, juga menjadi tempat resepsi pernikahan hingga pemberangkatan jenazah kerabat Keraton. []

%d bloggers like this: