Solo Raya

Strategi Tutur Humor Penting dalam Berbagai Konteks Kehidupan

“Kawan, mimpi dan imajinasi untuk terus bergerak dan menggerakkan sayap-sayap kesemestaan kehidupan merupakan tonggak sejarah kehidupan yang akan dikenang sepanjang masa oleh multigenerasi NKRI”

Manusia memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi antarindividu, kelompok, dan masyarakat dalam berbagai konteks kehidupan yang beragam. Dalam berkomunikasi jelas menggunakan bahasa verbal dan nonverbal menyesuaikan dengan konteks dan tujuan tuturan yang disampaikan kepada lawan tutur dan partisipannya. Hal ini sebagai bentuk perwujudan komunikasi dalam berbagai ranah pendidikan, perdagangan, ekonomi, politik, hukum, dan sosial masyarakat yang beraneka ragam. Semua teknik dan model komunikasi memiliki karakteristik dan keunikan masing-masing bergantung konteks situasi, media, tujuan, lawan tutur, dan partisipasi tuturan. Satu yang harus diperhatikan bahwa dalam setiap komunikasi tentu ada keinginan untuk menjaga muka, rasa, dan membuat nyaman lawan tutur dan partisipan yang diajak berkomunikasi. Hasil ini biasanya dilakukan oleh penutur, lawan tutur, dan partisipan dengan strategi tutur humor sebagai solusinya.

Perhatikan dialog Mas Mamad dengan Mas Marfan berikut: Mas Mamad: “Ingat lho ya, kalau tidur tidak boleh telentang, bisa menyebabkan kematian” Mas Marfan: “Masak sih Mas Mamad, hanya tidur telentang kok dapat menyebabkan kematian”. Mas Mamad: “Kalau ndak percaya, ya buktikan saja. Nanti kusiapkan ambulan untuk pertolongan pertama agar segera dibawa ke ICU di rumah sakit terdekat” Mas Marfan: “Ngeri  banget. Memang pernah ada yang membeuktikan itu Mas Mamad.” Mas Mamad: “Tidak ada yang berani, wong tidur telan biji salak saja bahaya apalagi telentang, bisa terlambat bernafas” Mas Marfan: “Huahahaha, ya…ya..ya..masuk Mas Mamad. Satu kosong” Merujuk dialog Mas Mamad dan Mas Marfan tersebut dapat dipahami bahwa setiap komunikasi antara penutur dan lawan tutur memerlukan strategi tutur humor untuk memecah kebekuan dalam berkomunikasi. Dalam linguistik, bahwa memahami maksud ujaran dibalik tuturan seorang penutur  merupakan kajian interdisipliner linguistik fungsional yaitu bidang pragmatik. Seorang penutur harus dapat memranggapkan implikatur tersirat yang dimaksudkan oleh seorang penutur yang terikat konteks. Berdasarkan hal tersebut, strategi tutur humor perlu dilatih dan dapat digunakan dalam berbagai konteks kehidupan secara beragam.

Situasi tutur yang kaku dan kering juga akan membuat bosan dan malas bagi penutur, lawan tutur, dan partisipan. Contohnya, saat Mas Mamad:”Teman-teman, kalau nanti kita berangkat ke Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur, mohon diingat-ingat betul ya. Kita dilarang salat di jalan” Mas Marfan: “Lho memang kenapa bosqu, mosok tidak boleh. Kita sebagai musafir kan boleh salat di jalan” Mas Mamad: “Bahaya, dapat mengganggu lalu lintas dan kemacetan” Mas Marfan: “O ya…ya, salat di jalan kok ya, he..he..he” Mas Mamad: “Kalau salat di langgar justru boleh di sana” Mas Marfan: “Kok bisa? O ya…ya..paham..paham..ternyata IQ ku memang tinggi ya bosqu?” Mas Mamad: “Huhahhaa….” Berdasarkan percakapan tersebut, antara mas Mamad dan Mas Marfan dapat diketahui aneka pilihan konteks dan strategi humor yang digunakan dalam percakapan tersebut. Hal ini akan sangat menarik  untuk diskusi dan percakapan antarteman, kolega, dan juga aneka konteks tuturan yang beragam karena sangat berkaitan dengan reportoar bahasa, kecepatan mamahami teks, koteks, dan konteks tuturan yang teriakt konteks pragmatik dan psikopragmatik. Bahagia dan ceria saat penutur, lawan tutur, dan partisipan dapat saling mengisi dan sambung topik dan konteks dalam percakapan dengan konteks situasi formal dan nonformal. Berbeda halnya dengan situasi formal atau pun nonformal tidak terwujud situasi tutur yang santai dan menyenangkan maka peran penutur, lawan tutur, dan partisipan untuk menciptakan situasi tutur dengan strategi tuturnya masing-masing sebagai Solusi pilihannya.

Startegi tutur sangat diperlukan oleh setiap orang dalam berbagai konteks komunikasi di mana pun dan kapan pun. Hal ini menjadi salah satu pemantik komunikasi antara penutur (O1), lawan tutur (O2), dan partisipan (O3) dalam berbagai konteks tuturan. Misalnya, seorang guru memiliki strategi tutur homor dengan peserta didiknya, dosen dengan mahasiswanya,  kaprodi dengan dosen-dosennya, pedagang dengan konsumennya, bapak dengan anak-anaknya, ibu dengan anak-anaknya, kakak dengan adik-adiknya, dan semua konteks kehidupan lainnya. Aneka ragam pilihan kata dan strategi humor dapat digunakan dalam berbagai situasi dna kondisi yang beragam juga saat berkomunikasi dalam situasi formal maupun nonformal. Setiap komunikasi diperlukan kerja sama antara penutur (O1), lawan tutur (O2), dan partisipan (O3) dalam berkomunikasi harus saling berbagi dan menguatkan dengan aneka ragam cerita dalam berbagai konteks kehidupan. Dengan demikian, strategi tutur humor harus diciptakan dan digunakan secara tepat dalam konteks tuturan yang tepat bersama lawan tutur dan partisipan unttuk menciptakan situasi tutur yang menyenangkan, membahagiakan, dan mengesankan sepanjang waktu berkomunikasi.

Hidup memerlukan kata, frasa, klausa, kalimat, pargraf, dan wacana untuk menyampaikan ide dan gagasan, baik secara formal maupun nonformal. Namun demikian diperlukan strategi-strategi tuturan humor yang efektif agar membuat hidup lebih hidup dan menyenangkan dalam berkomunikasi. Penutur dan lawan tutur dapat memilih dan memilah tuturan dengan konteks situasi yang tepat. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama yang bijak antar penutur, lawan tutur, dan partisipan dalam berbagai konteks komunikasi untuk saling menguatkan, menyenangkan, mengesankan, dan membuka ruang-ruang komunikasi yang efektif agar dapat diingat dan dikenang sepanjang hayat oleh lawan tutur dan partisipan.

Kadang-kadang masih ada penutur dan lawan tutur yang saling menunggu dan kaku karena bingung mau mulai dari mana tuturannya dalam berkomunikasi. Apalagi saat penutur dengan lawan tutur baru bertemu pertama kali atau ada sekat antara pejabat dan bukan pejabat, dan penyekat sosial ekonomi serta Pendidikan lainnya yang menghambat komunikasi. Ada juga yang lawan tutur atau partisipan enggan berkomunikasi karena penuturnya mengeluarkan peluru kata yang tidak pernah berhenti. Artinya, perlu pemahaman bersama teks, koteks, dan konteks situasi tutur dalam setiap tuturan yang terikat konteks dalam berbagai situasi kehidupan di dalam masyarakat. Selamat  memulai untuk menciptakan dan menikmati situasi yang menyenangkan dan mengesankan  bagi penutur, lawan tutur, dan partisipan dalam berbagai situasi komunikas dengan aneka strategi humor yang beraneka ragam sepanjang waktu dengan senyuman 228 (dua sentimeter ke kiri, dua sentimeter ke kanan, delapan detik mengembang). Praktikan, manis dan menyenangkan tho.

“Keheningan jiwa kan selalau memantik rasa rindu sepanjang masa tanpa harus memeluk semesdi ujung senja”

Lampung, 5 Januari 2024

Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.

Dosen PBSI FKIP UNS, Ketua Umum ADOBSI, & Penggiat LIterasi Arfuzh Ratulisa

Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube: M Rohmadi Ratulisa

 

%d bloggers like this: