KLATEN-Universitas Wolverhampton, yang diwakili Profesor Megan Lawton, Dr. Komali Yenneti, Dr. Zeta Williams Brown dan UIN Raden Mas Said Surakarta, yang diwakili oleh Irfan Syaifuddin, M.HI, Dr.Gadis Deslinda,M.Psi, Dr.Ernawati,S.Psi,M.Si., Ari Puput M.Pd melakukan penelitian di SD Alam Aqila tentang penerapan pendidikan inklusi, Jumat, 31 Maret 2023.
Tujuan dari penelitian ini sebagaimana diungkap salah satu tim peneliti, Ari Puput, M.Pd. adalah untuk melihat aplikasi pendidikan inklusi di beberapa sekolah di Indonesia, sehingga mereka bisa membuat sebuah Modul ajar untuk para mahasiswa calon guru, agar kelak saat lulus mereka bisa mengaplikasikannya.
Karena itu para peneliti ini mengamati proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bagaimana murid special needs (Anak Berkebutuhan Khusus/ABK) berinteraksi dengan guru dan murid lainnya, melakukan wawancara dengan orang tua juga dengan guru.
Kebetulan penelitian ini dilakukan hari Jumat (31/3/2023) saat jadwal SASS (Sekolah Alam Student Scout) jadi semua kegiatan pembelajaran dilakukan diluar ruangan. Karena ini bulan Ramadhan, maka kegiatan SASS yang dipilih yang tidak menguras energi yaitu Throwing sport (memanah) untuk pembelajaran outbond leadership, belajar tali temali untuk lifeskill dan mentoring untuk islamikanya.
Melihat kegiatan ini para peneliti begitu antusias dan sangat senang seperti yang di ungkap ketua peneliti Irfan Syaifuddin, M.HI.
“Jadi mereka tadi Prof Megan, Zetta termasuk Komali tadi begitu excited dengan sekolah ini, Sekolah Alam Aqila dengan kondisi yang terbuka anak anak independent, mau ngapain terserah tapi tetap terarah, tidak harus dipaksakan pada satu hal gitu,”katanya.
Lain halnya yang disampaikan oleh Dr Ernawati, S.Psi, M.Si,.dalam chatnya secara personal ke tim SD Alam Aqila, “Alhamdulillah nya di SD Aqila menjadi tempat penutup yang sangat paling berkesan bagi teman teman bule tadi.”
Bahkan Dr Komali Yenneti saat sesi wawancara dengan guru kagum dengan pendidikan di SD Alam Aqila. Lewat Ari Puput, M.Pd penterjemah bahasa beliau menyampaiakan, “jika ada kesempatan ingin menjadi Volunteer mengajar di sekolah ini.”
Saat mengetahui sekolah ini menggunakan pendekatan interaksi dengan Alam melalui BBA (Belajar Bersama Alam) untuk mengajarkan hampir semua pelajaran dengan suasana yang menyenangkan.
Termasuk sebagai terapi untuk anak berkebutuhan khusus yaitu memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki sekolah mulai dari kontur lahan yang naik turun, tanah sekolah yang dibiarkan terbuka, aneka tumbuhan dan hewan, fasilitas sekolah berupa hutan baca, danau mini, kebun sekolah yang menerapkan sistem pertanian organik, dan lain lain.
Semiyati, S.Pd founder Sekolah Alam Aqila saat ditanya bagaimana prosedur penerimaan anak berkebutuhan khusus di Aqila, menyampaikan bahwa ABK bisa diterima atau tidak sebagai murid, berdasaran hasil assasmen yang dilakukan oleh psikolog dengan mempertimbangkan kemampuan sekolah.
“Melihat keterbatasan sumberdaya (ketersedianya GPK/Guru Pendamping Khusus) maka hanya anak berkubutuhan khusus yang mengalami kesulitan belajar saja yang saat ini bisa diterima di SD Alam Aqila,”katanya.
Untuk jenis lain seperti Autis, downsyndrom, ID belum bisa. Karena khawatir tidak maksimal dalam penanganannnya.
Karena sekolah inklusi menurut semiyati itu beda dengan Sekolah ABK , sekolah inklusi itu sekolah reguler yang menerima anak berkebutuhan khusus namun jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan sekolah.
Banyak masyarakat yang menganggap bahwa sekolah inklusi adalah sekolah ABK . Beberapa kali orang tua datang ke sekolah dan bertanya, “Ini sekolah untuk ABK”?, sama admin di jawab “Ini bukan sekolah ABK namun sekolah yang menerima murid ABK berdasarkan hasil screening dan jumlahnya per kelas dibatasi,”begitu pungkasnya. []